Senin, 13 Februari 2012

KESEDIHAN HATI DAN PENGAKUAN BATHIN


Aku termenung mengingat Engkau..
Dan tak bisa ku tahan jatuh air mataku..
Aku terbuai dengan keindahanMU..
Seakan hatiku ada bersamaMU..

Begitu besar perasaan hatiku..
Hingga tak mampu ku coba untuk mengungkapkan..
Begitu dalam rasa rindu padaMU..
Aku menangis dengan kerinduanku..

Sedih hatiku ingin bertemu..
Sedih hatiku mengingatMU..
Gelisah hidupku ingin memujaMU..
Gelisah hidupku karenaMU..

Aku merindukanMU ya Allah..
Hati menangis setiap waktu..
Aku merindukanMU ya Allah..
Seluruh hidupku memujaMU ya Allah..

Aku tak mampu untuk menggapaiMU..
Namun ku yakin Allah Engkau Maha Tahu..
Ya Allah dengarlah doaku..
Sepenuh hati AKU MERINDUKANMU..

Inilah ungkapan hatiku yang sebenarnya, yang telah aku tujukan untukMU wahai sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Segala-galanya. Telah lama sudah aku jalani hidup dengan penuh pengalaman-pengalaman bathin yang membuat hidupku selalu penuh dengan kegelisahan-kegelisahan yang tidak pernah aku tahu maknanya. Dan aku hanya berkata, mungkin semua ini hanyalah cobaan dariNYA untuk menaikkan derajat aku disisiNYA. Aku hampir saja tidak mampu untuk menghadapi semua cobaan-cobaan, namun atas segala kasih sayangNYA, insya Allah aku akan berusaha semampunya untuk menghadapi semua cobaan-cobaan ini, karna aku ingat dengan sebuah firman Allah SWT yang berbunyi : Laa yukallifullahu nafsan illa wus 'ahaa, yang artinya Allah tidak akan memberikan cobaan kepada manusia, kecuali berdasarkan dengan kemampuannya. Maka karna firman Allah itulah akhirnya aku dapat bertahan dari segala macam cobaan-cobaan yang datang menghampiri aku.

Aku tak tahu seberapa besar dosaku..
Telah lama kujamah hidup ini..
Hingga tak terasa usiaku bertambah..
Tuhan ampuni dosaku..
Tuhan terimalah taubatku..

Aku tak tahu seberapa besar salahku..
Telah lama ku tempuh hidup ini..
Hingga tak terasa ajal setia menanti..
Tuhan ampuni dosaku..
Tuhan terimalah taubatku..

Dalam gelap malam aku merenung mengagumi kebesaranMU..
Dalam gelap malam aku berdoa..
Tuhan ampuni dosaku..
Tuhan terimalah taubatku..

Dalam gelap malam aku menangis memohon ampunanMU..
Dalam gelap malam aku bersimpuh..
Tuhan ampuni dosaku..
Tuhan terimalah taubatku..
Sembah sujudku padaMU..

Kita yang tak pernah tahu akan semua dosa-dosa yang selalu saja kita perbuat dengan tanpa rasa penyesalan diri yang tak pernah kita sadari. Dan kita juga yang tak pernah tahu akan semua kesalahan-kesalahan yang selalu saja kita perbuat dengan tanpa kita sadari penyesalannya. Perlu kita ketahui bahwa ada saat yang paling indah untuk menyadari, mengungkapkan dan untuk melepaskan segala isi hati kita kepadaNYA, saat yang paling indah itu adalah tengah malam, saat dimana orang-orang telah lupa akan kehidupan dunianya. Dan saat itulah Allah SWT telah membuka lebar-lebar segala pintu-pintu doa dan Allah juga telah membuka lebar-lebar segala ampunanNYA. 
Hidup ini kadang membawa kesenangan dan kadang pula membawa kesedihan. tetapi telah banyak orang-orang yang telah melupakan satu hal yang pasti akan kita rasakan, dan kita juga tidak akan bisa menolaknya walaupun sampai menangis darah sekalipun. Satu hal itu adalah KEMATIAN...

Bila izroil datang memanggil..
Seluruh tubuh akan menggigil..
Bila izroil datang memanggil..
Sekujur badan akan kedinginan..

Jasad terbujur dipembaringan dan dimandikan..
Jasad terbujur dipembaringan terbungkus kain kafan..

Tubuh terbujur lemah tak berdaya..
Diatas keranda dan di sembahyangkan..
Jasad terbujur lemah tak berdaya..
Diatas keranda dan di kuburkan..

Tinggallah hidup seorang diri tiada yang menemani..
Tinggallah hidup seorang diri hanya amal yang jadi teman..

Malaikat datang mempertanyakan..
Mulut terkunci tangan kaki bersaksi..
Tubuh gemetar karena ketakutan..
Melihat malaikat memberi balasan..

Malaikat datang mempertanyakan..
Mulut terkunci tangan kaki bersaksi..
Malaikat marah sangat menakutkan..
Kepada siapa memohon pertolongan..

Amal ibadah sebagai modal kita..
Untuk menolong di alam kuburnya..
Amal ibadah sebagai modal kita..
Untuk hindarkan siksa kuburnya..

Jasad tersiksa karena dosa selama hidup didunia..
Jasad tersiksa karena salah selama hidup didunia..

Inilah sejalan peristiwa kematian yang telah dijanjikan Allah SWT kepada semua hamba-hambaNYA yang setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakannya..
Selagi kita masih ada waktu didunia, marilah sama-sama kita berlomba-lomba dalam mengumpulkan segala macam amal-amal ibadah.

Dunia ini tempat berserah diri padaMU..
Untuk menuju jalan Ilahi Robbi..
Meski cobaan selalu datang menghadang..
Allah tempat kami mengadu..

Hanya kepadaMU tempat kami menyembah diri..
Hanya kepadaMU tempat kami meminta..
Selagi masih ada sisa waktu..
Tuhan berikan petunjukMU..

Selagi masih ada sisa waktu..
Siapkan diri menghadap Allah..
Selagi masih ada sisa waktu..
Niatkan hati menuju Allah..

Dunia ini tempat segala macam salah dan dosa..
Baik-buruknya serahkan pada Yang Kuasa..
Selagi masih ada sisa waktu..
Allah tempat kami kembali..

Jumat, 10 Februari 2012

ILMU AQSAM AL-QUR’AN


ILMU AQSAM AL-QUR’AN



MAKALAH


Sebagai Tugas Mata Kuliah
Ulumul Qur’an
Dosen Pembimbing : Bustami Saladin M.A.
Disusun Oleh :
IMAM HANAFI
M. AINUR ROFIK
LUTFIYADI
M. HABIBI



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PAMEKASAN
2011/2012

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb.
           
            Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan ma’unah-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul ILMU AQSAM AL-QUR’AN”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang Revolusioner dunia Nabi Muhammad saw.
            Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini, khususnya teman-teman yang telah ikut membantu dalam memberikan masukan dalam menyusun makalah ini, baik yang ada d STAIN pamekasan maupun di luar STAIN.
            Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun sebagai analisa bagi kami sehingga akan terciptanya makalah yang lebih baik kedepannya.
            Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kami sebagai penyusun dan umumnya bagi masyarakat umum.

Wassalamualaikum wr. wb.



                                                                                                                       Penyusun











DAFTAR ISI
Halaman Sampul . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      i
Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    ii
Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    iii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    1
B.     Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .     2
C.     Tujuan Penulis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Al_Qur’an . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .     3
B.     Bentuk-Bentuk Aqsam Al-Qur’an  . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .     8
C.     Manfaat Sumpah Dalam Al-Qur’an. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    9

BAB III PENUTUP
Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .   11

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    12














BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Kesediaan jiwa pribadi bagi setiap individu dalam menerima dan membenarkan sesuatuserta patuh menurut perintah Allah swt. berbeda-beda. Jiwa bersih yang fitrahnya tidak dikotori dengan najis atau tidak ternoda oleh kejahatan, maka hati orang ini lebih terbuka untuk menerima petunjuk dengan kata lain bahwa jiwa yang seperti inilah yang cepat menangkap huda (petunjuk) Allah swt yang jatuh kepadanya sekalipun petunjuk tersebut yang sampai kepadanya hanya sepintas. Adapun jiwa yang diselubungi oleh awan kejahilan serta ditutupi oleh kegelapan bathil atau gelapnya kebatilan, maka hati orang seperti ini tidak akan bersedia menerima kebenaran agama atau tidak akan tergugah hatinya kecuali dipaksakan sampai timbul kegoncangan.[1]Dalam arti dengan  peringatan dan bentuk kalimat yang kuat dan kokoh, sehingga dengan demikian barulah tergoyahkan keingkarannya tersebut. Disamping itu qasam (sumpah) dalam pembicaraan merupakan salah satu uslub pengukuhan kalimat yang diselingi dengan bukti konkrit dan dapat menyeret lawan untuk mengakui apa yang diingkarinya.[2] Dan hal inilah merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menyadarkan mereka.
Sebagaimana di ketahui  bahwa sudah menjadi kebiasaan manusia dalam semua masa atau waktu jika berbicara, berjanji dan bersemboyang, maka mereka selalu ingin memperkuatnya dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan sumpah. Dengan sumpah, pendengar akan yakin dan mantap dalam menerima dan mempercayai ucapan yang didengarnya. Sebab pembicaraan yang diperkuat dengan itu, berarti sudah dipersaksikan di hadapan Tuhan.
Sumpah yang ada dalam al-Quran cukup meliputi berbagai hal di alam jagad raya ini. Tampil sebagai persoalan yang tidak semata-mata benar, akan tetapi juga merupakan berita besar yang harus dipercayai, sebab akan mendatangkan kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Olehnya itu, para ulama sepakat bahwa sumpah sang khaliq dengan suatu makhluknya antara lain dimaksudkan untuk mengagungkan tema sumpah tersebut, termasuk sebagai kesiapan jiwa dalam menerima kebenaran dan tunduk terhadap cahayanya.



B.     RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penulis merasa perlu membahas tentang Aqsam Al-Qur’an dengan membatasi pembahasan sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian aqsam Al-qur’an?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk aqsam Al-qur’an?
3.      Apa hikmah sumpah dalam Al-qur’an?

C.  TUJUAN
            Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ulumul Qur’an, tapi bertujuan di antaranya untuk :
1.      Untuk mengetahui pengertian aqsam Al-qur’an.
2.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk aqsam Al-qur’an.
3.      Untuk mengetahui hikmah sumpah dalam Al-qur’an.
           




















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Aqsam Al-Qur’an
Menurut bahasa, aqsam merupakan lafal jamak dari kata qasam. Sedang kata qasam sama artinya dengan kata halaf dan yamin, karena memang satu makna, yaitu berarti sumpah. Sumpah dinamakan dengan yamin karena orang Arab kalau bersumpah saling memegang tangan kanan masing-masing.
Adapun menurut istilah, qasam diberi definisi sebagai berikut :
“Sumpah ialah mengikat jiwa untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun secara keyakinan saja.”
Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menyatakan bahwa qasam (sumpah) adalah memperkuat maksud dengan disertai menyebutkan sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dengan mengfungsikan huruf waw ( و ) atau alatnya  yang lain seperti ba ( ب ) dan ta  ( ت ). Di samping itu qasam (sumpah) menurut ulama nahwu ibnu al-Qayyim adalah kalimat yang karenanya ditegaskan suatu berita.
Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa aqsam al-Qur’an adalah suatu upaya penegasan dan penguatan Allah dalam bentuk sumpah yang menunjukkan bukti-bukti akan adanya kebenaran suatu berita baik melalui lafaz-lafaz ataupun obyek-obyek tertentu yang menarik perhatian sesuai dengan tingkat kepentingannya.
bentuk sumpah itu tidak hanya terdapat dalam Al-qur’an saja, juga tidak hanya dalam bahasa arab, melainkan umum dan terdapat dalam kitab suci serta dalam segala bahasa di dunia, baik Arab, Inggris, Perancis, Urdu dan sebagainya termasuk pula dalam bahasa Indonesia.
Sighat qasam yang asli itu terdiri tiga rukun, yaitu :
1.  Harus ada Fi’il Qasam (Yang di Muta’addikan Dengan Huruf Ba’)
Sighat qasam baik yang berbentuk uqsimu ataupun yang berbentuk akhlifu tidak akan berfungsi tanpa dita’adiyahkan dengan huruf  ba’. Seperti yang terdaat dalam surat An-Nahl ayat 38 :
وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ ....... ( النحل: ٣٨ )
Artinya : “Mereka bersumpah dengan nama Allah”
Namun kadang kala dalam suatu ayat, sighat qasam langsung disebutkan dengan huruf wawu pada isim dzahir, kadang kala langsung diebutkan dengan huruf ta’ pada lafal jalalah. Hal ini terjadi mana kala fi’il qasam tidak disebutkan dalam ayat tersebut.
Contoh :
Dengan huruf wawu :
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ( الليل: ١ )
Artinya : “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”
Dengan huruf ta’ :
٥٧الأنبياء )   وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم
Artinya : “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu”

  1. Harus ada muqsam bih (penguat sumpah)
Muqsam bih ialah lafaz yang terletak setelah adat/alat qasam yang dijadikan sebagai sandaran dalam bersumpah yang juga disebut sebagai syarat, yang mana muqsam bih tersebut adalah sesuatu yang diagungkan oleh yang bersumpah.
Dalam al-qur’an, allah bersumpah dengan zat-Nya sendiri yang maha agung atau dengan tanda-tanda kekuasaannya yang maha besar.
 ü   Allah bersumpan dengan zat-Nya sendiri :
٣ : سبأ ) قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْب.ِ.. …
Artinya : “Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib’.”
ü      Allah bersumpan dengan makhluk ciptaannya :
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ. وَطُورِ سِينِينَ ( التين : ١- ٢­ )
Artinya : “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun , dan demi bukit Sinai.”

Dr. Bakri Syekh Amin dalam buku At-Ta’Bir Alfan Fil Qur’an menceritakan kebiasaan sumpah orang-orang arab     jahiliah yang selalu memakai muqsam bih selain Allah, misalnya dengan umurnya, hidupnya, kakeknya, kepalanya, dan sebagainya. Misalnya mereka bersumpah dengan berkata :

            (saya bersumpah demi umurmu, atau demi umur saya, atau demi hidupkku, atau demi hidup ayahmu, atau demi kepalamu, dan sebagainya).
            Maksud sumpah orang arab jahiliah tersebut adalah untuk memuliakan hal-hal yang dijadikan uqsam bih itu. Menurut kebiasaan, mereka memang memuliakan hal tersebut.
            Padahal, menurut peraturan muqsam bih, sumpah itu seharusnya memakai nama Allah SWT, Dzat atau sifat-sifat-Nya, terutama bagi sumpah manusia. Sebab, ada larangan bersumpah dengan muqsan bih selain Allah, yang dihukumi musyrik.
            Hal itu berdasarkan hadits riwayat Umar :
  ان رسول الله صلى الله عليه وسلم : من حلف بغير الله فقد كفر او اشرك (رواه الترمذى)
Artinya : “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka berarti dia telah kafir atau musyrik”. (H.R. Tirmidzi)
            Hadits riwayat Al-Hasan menyebutkan :
ان الله اقسم بما شاء من خلقه وليس لاحد ان يقسم الا بِالله (رواه ابن ابى حاتم)
Artinya : “Sesungguhnya Allah bersumpah bisa dengan makhluk-Nya apa saja, tetapi seorang pun tidak boleh bersumpah selain dengan nama Allah”. (H.R. Ibnu Abi Hatim)
            Memang bagi Allah SWT. Boleh bersumpah dengan muqsam bih apa saja. Sebab, muqsam bih itu harus berupa yang diagungkan oleh yang bersumpah. Sedang bagi Allah yang Maha Agung itu tidak ada yang harus diagungkan oleh-Nya, sehingga Dia boleh bersumpah dengan Dzat-Nya ataupun dengan makhluk-Nya. Tetapi tidak untuk mengagungkan makhluk itu, melainkan supaya manusia mengerti bahwa makhluk/benda-benda yang dijadikan muqsam bih Allah SWT itu adalah benda/makhluk-makhluk yang penting, yang besar artinya.
  1. Harus ada muqsam ‘alaihi (berita yang ingin diperkuat denngan sumpah itu)
Muqsam ‘alaihi ialah bentuk berita yang ingin supaya bipercaya/ diterima oleh orang yang mendengarnya sehingga diperkuat dengan sumpah tersebut, atau disebut juga jawab qasam. Posisi muqsam ‘alaihi terkadang bisa menjadi taukid, sebagai jawaban qasam. Karena yang dikehendaki dengan qasam adalah untuk mentaukidi muqassam alaih (menguatkannya).
Ada empat hal yang harus dipenuhi muqsam ‘alaih, yaitu :
a.       Muqsam ‘alaih/ berita itu harus terdiri dari hal-hal yang baik, terpuji, atau hal-hal yang penting.
b.      Muqsam ‘alaih itu sebaiknya disebutkan dalam setiap bentuk sumpah. Jika kalimat muqsam ‘alaih tersebut terlalu panjang, maka muqsam alaihnya boleh dibuang. Seperti yang terdapat dalam surah al-qiyamah ayat 1- 2 :
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ( القيامة: ١-٢­ )
Artinya : “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
Muqsam ‘alaih dari qasam tersebut dibuang, karena terlalu panjang. Yang menunjukkan adanya muqassam alaih adalah ayat setelahnya, yaitu ayat 3-4 :
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَجْمَعَ عِظَامَهُ. بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَه ُ   ( القيامة: ٣-٤­ )
Artinya : “Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
Sedangkan takdir dari muqsam ‘alaihnya bila didatangkan ialah kalimat : “Pasti kalian akan dibangkitkan dari kubur.”
c.       Jika jawab qasamnya berupa fi’il madhi mutaharrif yang positif (tidak dinegatifkan), maka muqsam ‘alaihnya harus dimasuki huruf “lam” dan “qod”.
Contohnya :
لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ ( البلد: ١-٤ )
Artinya : “Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, dan demi bapak dan anaknya. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
d.      Materi isi muqsam 'alaih itu bisa bermacam-macam, terdiri dari berbagai bidang pembicaraan yang baik-baik dan penting. Seperti :
Keterangan bahwa rasulullah saw adalah benar-benar utusan allah :
يس. وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ. إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (يس : ١- ٣)
Artinya : “Yaa siin. Demi. Al-Quraan yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul.”
B.  Bentuk-Bentuk Aqsam Al-Qur’an
Dilihat dari segi fi’ilnya, qasam dalam alqur’an ada dua macam, yaitu ;
1.      Qasam dhahir (nampak/ jelas), yaitu qasam yang fi’il qasamnya disebutkan bersama dengan muqasam bihnya. Seperti ayat berikut :
وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللّهُ مَن يَمُوتُ.... ( النحل: ٣٨ )
Artinya : “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati’.”
Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, dan dicukupkan dengan huruf “ba’”, “wawu”, dan ta’”. Seperti :
وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ( الضحى : ١-٢­ )
Artinya : “Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”
2.      Qasam Mudhmar (tersimpan/ samar) yaitu qasam yang didalamnya tidak dijelaskan/ disebutkan fi’il qasam dan muqassam bihnya. Tetapi yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah qasam adalah kata-kata setelahnya yang diberi lam taukid yang masuk kedalam jawab qasamnya. Seperti :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ...( آل عمران : ١٨٦ )
Artinya : “Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan jiwa kalian.”
C.  Hikmah Sumpah Dalam Al-Qur’an
a)      Sumpah (qasam) dalam ucapan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk menguatkan pembicaraan yang diselingi dengan pembuktian untuk mendorong lawan bicara agar bisa menerima/ mempercayainya.
b)      Apakah makna sumpah dari Allah SWT? Abu Al-Qasim Al-Qusyairi menjawab bahwa sesuatu dapat dipastikan kebenarannya dengan dua cara, yaitu persaksian dan sumpah. Kedua cara itu dipergunakan Allah dalam Al-Qur’an sehingga mereka tidak memiliki hujjah lagi untuk membantahnya.
c)      Qur’an diturunkan untuk seluruh manusia, dan manusia mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadapnya. Diantaranya ada yang meragukan, ada yang mengingkari dan ada pula yang amat memusuhi. Karena itu dipakailah qasam dalam kalamullah, guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalah fahaman, menguatkan berita, dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna.
d)     Dengan bersumpah memakai nama Allah atau sifat-sifat-Nya, menurut Dr. Bakri Syekh Amin berarti memuliakn atau mengagungkan Allah SWT karena telah menjadikan nama-Nya selaku Dzat yang diagungakn sebagai penguat sumpahnya. Tidak memakai nama atau benda-benda lain, sesuai dengan peraturan dan definisi sumpah itu sendiri.








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari beberapa uraian mengenai aqsam dalam al-Quran dari berbagai aspek, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Aqsam secara etimologi adalah sumpah, secara terminologi adalah mengikat jiwa (hati) agar tidak melakukan atau melakukan sesuatu, dengan suatu makna yang dipandang besar, baik secara hakiki maupun secara i’tiqadi, oleh orang yang bersumpah itu. Adapun sighat dan unsur-unsur qasam dalam al Qur’an adalah, Sighat bentuk asli, yakni sighat fiil qasam yang dimutaaddiykan dengan huruf “ب“ Sighat yang ditambah huruf la لا)), Sighat yang ditambah dengan kata qul balaa  قل بلي)), Sighat yang ditambah dengan kata-kata qul iiy  (قل إي).
2.      Mengenai bentuk sumpah (qasam) Allah swt dalam  al-Qur’an ini dijelaskan  bahwa qasam al-Qur’an  berbentuk  jumlah Khabariyah yakni kalimat berita yang sifatnya informatif, terkadang juga  berbentuk  jumlah thalabiyah yakni kalimat yang tidak informative, adapun bentuk qasam dalam  al-Qur’an  ialah qasam dhahir, yaitu qasam yang  fiil qasamnya  disebutkan bersama dengan muqsam  bihnya, Qasam mudhmar,  yakni qasam yang  fiil qasam dan muqsam bihnya tidak disebutkan, karena kalimatnya terlalu panjang.
3.      Allah SWT berhak menggunakan Dzat-Nya atau nama-nama makhluk-Nya di dalam bersumpah, tapi manusia dilarang menggunakan sumpah selain dengan menggunakan nama Allah SWT. Barangsiapa yang bersumpah selain dengan nama Allah, maka dia termasuk musyrik.
4.      Meski dibolehkan bersumpah, tapi hendaklah manusia menggunakan ‘sumpah’ pada situasi dan kondisi tertentu, yakni bila mukhattab atau lawan bicara termasuk dalam kategori “inkari”, yakni yang mengingkari kebenaran dari sebuah khabar (berita).
                  Adapun faedah aqsam dalam al-Qur’an ialah:
a.       Menghilangkan keraguan.
b.      Melenyapkan kesalah pahaman.
c.      Menguatkan khabar.
d.      Menetapkan hukum dengan cara yang paling sempurna.
e.   Dengan bersumpah memakai nama Allah atau sifat-sifat-Nya, berarti memuliakn atau mengagungkan Allah SWT karena telah menjadikan nama-Nya selaku Dzat yang diagungakn sebagai penguat sumpahnya.



























DAFTAR PUSTAKA
Ø Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Semarang: CV. Penerbit Diponegoro, 2005.
Ø DjalalAbdulUlumul Quran, Cet. III; Surabaya: Dunia Ilmu, 2000.
Ø  Prof. Dr. H. Abdul Djalal H.A. Ulumul Quran,Surabaya: Dunia Ilmu, 2009.